Site Overlay

Harga minyak lanjutkan penurunan, investor khawatir permintaan global melemah

New York (ANTARA News) –  Harga minyak terus menurun pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), tertekan kekhawatiran atas melemahnya permintaan bahan bakar di tengah perlambatan ekonomi global yang melemahkan sentimen pasar.

Pada awal perdagangan, harga minyak mendapat beberapa dukungan dari penurunan persediaan minyak mentah AS pekan lalu dan laporan Badan Informasi Energi (EIA) AS terbaru yang mengindikasikan perlambatan pertumbuhan produksi minyak serpih AS di tahun-tahun mendatang.

EIA mengatakan pada Selasa (22/1) bahwa pihaknya memperkirakan produksi minyak serpih akan naik ke rekor tertinggi pada Februari, menambahkan bahwa dalam jangka panjang pertumbuhan produksinya akan melambat.

Namun, prospek pasokan yang lebih rendah diimbangi oleh kekhawatiran yang semakin mendalam atas melemahnya permintaan bahan bakar, yang disebabkan oleh tanda-tanda jelas perlambatan ekonomi global.

Dana Moneter Internasional (IMF) pada Senin (21/1) memproyeksikan pertumbuhan global sebesar 3,5 persen pada 2019 dan 3,6 persen pada 2020, masing-masing 0,2 persentase poin dan 0,1 poin persentase di bawah perkiraan Oktober lalu.

Pedagang-pedagang juga melihat kemungkinan sanksi Amerika Serikat terhadap sektor minyak Venezuela, yang akan menyebabkan pasar lebih ketat.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Rabu (23/1) bahwa Amerika Serikat telah mengakui pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido sebagai “presiden sementara” negara itu, sebuah langkah yang muncul setelah Nicolas Maduro dilantik sebagai presiden negara Amerika Latin awal bulan ini.

Trump menambahkan bahwa Amerika Serikat akan terus menggunakan kekuatan ekonomi dan diplomatik untuk mendesak “pemulihan demokrasi Venezuela.”

Minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret turun 39 sen AS menjadi menetap pada 52,57 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange, sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman Maret turun 36 sen AS menjadi ditutup pada 61,14 dolar per barel di London ICE Futures Exchange. Demikian laporan yang dikutip dari Xinhua.

Baca juga: Harga Emas meningkat tipis, dolar melemah

Baca juga: Dolar melemah, kekhawatiran prospek pertumbuhan global meluas

Pewarta:
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019