Site Overlay

Bappenas nilai peningkatan ketimpangan global dipicu digitalisasi

Jakarta (ANTARA News) – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menilai peningkatan ketimpangan global salah satunya dipicu digitalisasi.    
   
“Sebetulnya yang disampaikan dalam beberapa tahun terakhir, ketimpangan itu adalah isu global. Ketimpangan yang menjadi isu global itu saya melihat, salah satunya karena sekarang ini sedang ada perubahan mendasar terkait digitalisasi, terkait mulainya revolusi industri 4.0,” ujar Bambang saat pembukaan Global Research Briefing Standard Chartered Bank di Jakarta, Kamis 

Peningkatan ketimpangan global tersebut terdapat dalam laporan terbaru dari Oxfam yang disampaikan di sela Forum Ekonomi Dunia (WEF), Davos, Swiss yang tengah berlangsung.
 
Menurut Bambang, peningkatan ketimpangan dunia karena adanya masa transisi yakni ada sejumlah pihak yang dengan cepat dapat menangkap manfaat dari ekonomi digital maupun revolusi industri, sehingga meningkatkan kekayaan yang dimilikinya.
   
“Seperti kita lihat, di daftar 10 atau 20 orang terkaya di dunia, sekarang didominasi oleh mereka yang terkait dengan digital maupun yang sudah masuk pada revolusi industri tersebut,” katanya.
   
Sementara itu, lanjut Bambang, mayoritas pelaku bisnis lain di negara maju maupun sedang berkembang, masih dalam tahap yang sangat awal atau bahkan belum terlalu mempersiapkan diri untuk masuk menggarap ekonomi digital tersebut. 
   
Oleh karena itu, untuk meredam ketimpangan tersebut yaitu dengan menutup ketimpangan yang terkait dengan produktivitas, sumber daya manusia, dan infrastruktur.
   
“Hanya itu yang perlu kita lakukan, tiga hal yang gap-nya terasa dan perlu kita tutup sehingga nantinya ketika digital economy menjadi mainstream, demikian juga revolusi industri. Kalau gap sudah kecil atau tertutup kita harapkan kalaupun ada pihak yang mendapat manfaat lebih, tidak akan menciptakan ketimpangan yang terlalu besar,” ujar Bambang.
   
Untuk Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada September 2018 tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur oleh rasio gini turun tipis menjadi 0,384.

Angka ini menurun sebesar 0,005 poin jika dibandingkan dengan rasio gini pada Maret 2018 yang sebesar 0,389.

Sementara itu, jika dibandingkan dengan rasio gini pada September 2017 yang sebesar 0,391 turun sebesar 0,007 poin.

“Ya kalau rasio gini mudah-mudahan mendekati 0,38,” ujar Bambang.

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019