Site Overlay

Analis: Rupiah cenderung menguat, kekhawatiran resesi ekonomi AS belum kuat

Jakarta (ANTARA News) – Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis pagi bergerak menguat seiring kekhawatiran terhadap potensi resesi ekonomi Amerika Serikat (AS) yang dinilai belum kuat, kata analis pasar uang.

“Data ekonomi AS yang dianggap bisa mewakili potensi resesi di AS yaitu sektor perumahan belum terkonfirmasi,” kata Kepala Riset Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih di Jakarta, Kamis.

Harga rumah untuk single family dengan menggunakan KPR (mortgage) November 2018 naik 0,4 persen bulan ke bulan (mom), mengikuti kenaikan 0,4 persen (mom) pada Oktober 2018, dan lebih tinggi dari perkiraan konsensus sebesar 0,2 persen (mom). Harga rumah ini relatif  datar, namun cenderung melambat dibandingkan Februari 2018 yang mencapai kenaikan tertinggi satu persen (mom). 
 
Penguatan ekonomi juga terlihat dari indeks aktivitas manufaktur dari lima negara bagian yang dihitung oleh The Fed Richmond naik menjadi minus dua untuk Januari 2019, membaik dari minus delapan pada Desember 2018, jauh lebih baik dibandingkan perkiraan konsensus yang minus enam. 

“Kedua data tersebut membuat kekhawatiran terhadap potensi resesi AS belum terlalu kuat. Kemungkinan the Fed masih akan menahan kebijakan suku bunganya pada pertemuan 29-30 Januari mendatang,” ujar Lana.

Baca juga: Dolar melemah, kekhawatiran prospek pertumbuhan global meluas

Dari domestik, sudah ditandatanganinya Peraturan Pemerintah (PP) mengenai devisa hasil ekspor (DHE) pada 10 Januari 2019 lalu, disebut akan menjadi penopang rupiah ke depan. Aturan teknis PP tersebut akan dikeluaran dari Kementrian Keuangan, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

PP tersebut memuat kewajiban DHE hasil sumber daya alam untuk disimpan di perbankan dalam negeri efektif mulai 1 Maret 2019 mendatang.

Kebijakan lanjutan adalah insentif atas pajak penghasilan (PPh) sebesar 0 persen untuk DHE yang dikonversikan ke rupiah dengan deposito tenor diatas 6 bulan melalui rekening khusus. 

Berdasarkan data BI, pelaporan DHE saat ini tercatat telah mencapai 95 persen dari total Surat Pemberitahuan Ekspor (SPE), namun DHE yang dibawa masuk baru mencapai 15 persen.

“Dengan aturan ini DHE akan menjadi penopang fundamental rupiah,” kata Lana. 
 
Sementara itu, Analis dari Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Reza Priyambada memperkirakan, hari ini rupiah akan bergerak di kisaran Rp 14.121 – Rp 14.138 per dolar AS. 

Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia pada Kamis, mata uang rupiah tercatat menguat menjadi Rp14.141 dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.188 per dolar AS.

Baca juga: Harga Emas meningkat tipis, dolar melemah

Baca juga: Harga minyak lanjutkan penurunan, investor khawatir permintaan global melemah

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019