Site Overlay

Analis: Pergerakan kurs rupiah dibayangi kesepakatan Brexit

Jakarta (ANTARA News) – Para analis menilai pergerakan nilai tukar (kurs) rupiah sangat terbatas dan dibayangi sentimen penolakan kesepakatan Brexit dan situasi ekonomi Amerika Serikat (AS) yang memicu rupiah melemah sebesar 40 poin menjadi Rp14.070 per dolar AS, Rabu pagi.

Analis Senior CSA Research Institue Reza Priyambada di Jakarta, Rabu, mengatakan pergerakan rupiah cenderung tertahan di tengah sentimen dari eksternal mengenai penolakan parlemen Inggris terhadap kesepakatan Brexit pada Selasa (15/1) waktu setempat.

“Situasi itu memicu pelaku pasar berhati-hati dalam menentukan arah investasinya di pasar negara berkembang, seperti Indonesia,” katanya.

Ia mengharapkan dengan fundamental ekonomi nasional yang kondusif dapat mengeliminasi kekhawatiran pasar terhadap Indonesia.

“Fundamental perekonomian dalam negeri cukup kondusif, itu dapat memberikan kepercayaan pasar sehingga peluang rupiah menguat cukup terbuka,” katanya.

Pengamat pasar uang dari Bank Woori Saudara Indonesia Rully Nova menambahkan apresiasi dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia, termasuk rupiah relatif terbatas dikarenakan faktor penutupan pemerintah.

“Penutupan pemerintah di AS masih berlangsung, itu akan menghambat perekonomian yang dapat memicu aset denominasi dolar AS menjadi kurang menarik,” katanya.

Baca juga: Dolar menguat setelah Parlemen Inggris tolak kesepakatan Brexit

Baca juga: Harga emas turun, dolar dan saham menguat

Baca juga: Analis: Arus modal investor asing terus masuk, dongkrak IHSG

Baca juga: Wall Street berakhir menguat, Saham Netflix melonjak

Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019